Kesenian Glipang ialah suatu jenis kesenian pertunjukan, yang membawakan lakon-lakon tertentu (pertunjukan berlakon) yang biasanya dipergelarkan semalam suntuk. Tema lakon bernafaskan ceritera dalam agama Islam antara lain tentang kejayaan Islam dan ceritera kehidupan masyarakat sehari-hari.
Istilah Glipang belum dapat dipastikan asal-usulnya,
demikian juga arti kata “glipang” berasal dari istilah dalam bahasa Arab
“goliban”, yang mengandung makna tentang suatu kebiasaan kegiatan yang
dilakukan oleh para santeri di pondok dalam kehidupan sehari-hari.
Penyajian Glipang
Glipang sebagai suatu kesenian pertunjukan, maka bentuk dan jenis pertunjukannya disesuaikan dengan selera masyarakat penonton atau penyelenggara pertunjukan (penanggap), misalnya tentang isi lakon dan waktu yang dikehendaki. Pada umumnya penonton menyukai penyelenggaraan dengan waktu yang lama atau semalam suntuk. Dalam penyajian demikian maka ditampilkan berulang-ulang bagian-bagian tertentu yang dianggap penting atau digemari oleh masyarakat. Pengulangan bagian-bagian tertentu seni itu dirasa memantapkan penyajian kesenian Glipang dan kenikmatan selera penonton. Akibat adanya aspek kemantapan ini, maka usaha menata seni Glipang antara lain dalam bentuk pemadatan penyajian dianggap menyalahi aturan yang berlaku dalam penyajian.
Penyajian kesenian glipang semalam suntuk terbagi atas
tahap-tahap:
- Tahap
ke satu: Tari Ngremo Glipang (Tari Kiprah Glipang). Tari ini merupakan bentuk
tari yang digunakan untuk mengawali pertunjukan seni glipang.
- Tahap ke-dua: Tari Baris.
Tarian ini dibawakan oleh para penari pria, biasanya disertai penampilan
seorang pelawak pria.
- Tahap ke-tiga: Tari
Pertemuan. Tarian dibawakan oleh penari pria dan wanita dalam komposisi
berpasangan, disertai dua pelawak pria dan wanita. Peragaan tarian wanita
dibawakan oleh penari pria dan dalam adegan ini kedua pelawak berdialog lucu
(melawak).
- Tahap
ke-empat: Sandiwara (Drama). Membawakan ceritera tertentu dengan tema tertentu
pula yang bernafaskan agama Islam.
Musik pengiring
Kesenian Glipang kecuali disajikan dalam bentuk tari dan drama (sandiwara) juga diiringi musik dan vokal.
Alat musik yang digunakan terdiri dari:
- Dua
ketipung besar, yakni lake’an dan bhine’an, ditabuh tingkah meningkah (saling
mengisi). Ketimpung laki-laki (lake’an) berfungsi memimpin dan memberikan
tekanan-tekanan gerak.
- Tiga
sampai lima terbang/kecrek, berfungsi mengisi lagu dengan cara memberikan suara
di antara degupan.
Lagu-lagu yang dibawakan:
- Lagu
Awayaro, sebagai lagu pembukaan menjelang penyajian tari kiprak Glipang.
- Pantun
berlagu bebas, dibawakan secara bergantian pada penyajian tari pertemuan
SUMBER : http://asriprolink.blogspot.com/2012/07/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar